February 18, 2017

Manajemen Industri Bagian III

ANALISA EKONOMI UNTUK PENGAMBILAN
KEPUTUSAN DALAM PRODUKSI


Dalam sistem produksi, fungsi dan peran yang harus dijalankan oleh manajer adalah mengambil keputusan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan alternatif-alternatif tindakan yang harus dilaksanakan oleh proses produksi. Walaupun banyak kesulitan dan kendala yang harus dihadapi, manajemen tidak bisa tidak harus melakukan studi, analisis, evaluasi dan dilanjutkan dengan pengambilan keputusan. Setiap permasalahan yang dihadapi dan harus dipecahkan, terlebih dahulu harus dianalisis dan dikembangkan alternatif-altematif kelayakannya, baik secara teknis maupun ekonomis, untuk kemudian diputuskan yang paling layak untuk dipilih. 
Pengambilan keputusan seharusnya selalu diawali dengan analisis kelayakan teknis, untuk kemudian dilanjutkan dengan analisis kelayakan ekonominya. Permasalahan yang berkaitan dengan aspek teknis merupakan pembahasan yang lebih menitik-beratkan pada fungsi operasional (performans)/engineering (umumnya berupa “hardware”). 


Siklus Aliran Uang (Cash Flow) Dalam Proses Produksi

Proses produksi selalu digambarkan sebagai proses perubahan bentuk (transformasi) dari bahan baku menjadi produk jadi, bisa pula digambarkan dalam bentuk aliran uang (Cash Flow).


Klasifikasi dan Struktur Biaya Produksi

Analisa ekonomi dalam sebuah engineering proposal akan memfokuskan pada analisa biaya (costs analysis) yang harus dikeluarkan. Pemilihan alternatif ditekankan pada proposal/rancangan yang bisa memberikan biaya yang paling ekonomis, dengan catatan disini aspek teknis ataupun fungsional dari masing-masing alternatif tersebut relatif sama.
Untuk memperjelas biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan produksi, berikut dijelaskan beberapa jenis biaya yang umum dijumpai:
  • Biaya Awal dan Operasional
    Biaya awal (first cost) adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan pada awal sebelum kegiatan produksi diselenggarakan. Biaya awal ini biasanya akan dipergunakan untuk pembelian mesin (fasilitas produksi), instalasi, gedung dan sebagainya.
  • Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung
    Biaya langsung (direct costs) adalah biaya yang bisa diidentifikasi secara langsung dengan suatu proses produksi tertentu atau produk keluaran (production output) yang dihasilkan. Sebagai contoh disini meliputi biaya-biaya material langsung, komponen, tenaga kerja langsung dan sebagainya. Sedangkan biaya tidak langsung (indirect costs) dalam hal ini tidak dapat diidentifikasikan dengan proses ataupun output produk tertentu. Biaya yang harus dikeluarkan untuk penerangan, AC, telepon, indirect material/labor, dan sebagainya.
  • Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap (Variabel)
    Dalam berbagai kasus pengambilan keputusan dengan memperhatikan biaya sebagai salah satu tolok-ukurnya, seringkali keputusan tersebut akan didasarkan pada volume produksi yang harus dipenuhi dalam suatu periode tertentu. Berkaitan dengan analisis ini perlu dikenal dan diidentifikasikan apa yang disebut dengan biaya tetap (fixed costs) dan biaya tidak tetap/variable (variable costs).

Penyusutan Nilai Ekonomis Suatu Aset (Depreciation)

Secara definitif penyusutan/depresiasi bisa dinyatakan sebagai berkurangnya nilai (value) dari suatu “physical assets” seperti mesin, peralatan produksi, bangunan pabrik, dan lain-lain dengan bertambahnya unsur pemakaian aset tersebut. Dalam hal ini, penyusutan bisa diklasifikasikan dalam bentuk:

  • Penyusutan fisik (physical depreciation)
  • Penyusutan fungsi kerja (functional depreciation)
  • Penyusutan nilai ekonomis/akuntansi (accounting depreciation)
Penyusutan fisik diartikan sebagai berkurangnya bentuk, ukuran, ataupun dimensi fisik dari aset karena pemakaian. Dampak dari penyusutan fisik ini akan bisa menyebabkan penurunan kemampuan, ataupun fungsi kerja dari asset tersebut.
Untuk menetapkan besarnya biaya depresiasi, ada 4 (empat) metoda yang umum diaplikasikan yaitu:
  • Metoda penyusunan garis lurus (straight-line depreciation method).
    Metode ini memberikan kemungkinan untuk menyusutkan nilai suatu assets pada laju yang konstan selama periode penyusutan berlangsung. 
  • Metoda penyusutan jumlah-digit-tahun (sum-of-the-year digits depreciation method).
    Metode ini akan menghitung besarnya biaya penyusutan (depresiasi) pada satu tahun tertentu berdasarkan rasio digit tahun yang bersangkutan dengan jumlah digit tahun-tahun dimana periode depresiasi berlaku. Metode SOYD akan memberikan kemungkinan nilai suatu asset akan terus berkurang pada laju pengurangan tertentu. 
  • Metoda penyusutan keseimbangan menurun (declining balance depreciation method).
    Metode DB ini akan menghasilkan biaya depresiasi dalam jumlah besar pada tahun-tahun awal dan selanjutnya menurun cepat pada periode tahun berikutya. F
  • Metoda penyusutan dana berkurang (sinking-fund depreciation method).
    Pada metode sinking-fund (SF) ini, nilai suatu asset akan berkurang dengan laju penyusutan yang terus bertambah besar. Dalam metode SF ini adanya bunga (interest) bank akan ikut dipertimbangkan sebagai konsekuens adanya perubahan nilai uang sesuai dengan fungsi waktu (Time Value of Money). Berdasarkan metode SF ini, maka biaya penyusutan setiap tahun adalah jumlah total dari besarnya nilai asset yang ditanamkan dalam “Sinking-Fund” pada akhir tahun dari jumlah bunga yang diperoleh selama tahun asset.
Sebelum perhitungan biaya penyusutan bisa dilaksanakan terlebih dahulu harus bisa diperoleh data yang berlcaitan dengan:

  • Biaya awal (harga + biaya instalasi) dan asset (P).
  • Estimasi nilai jual asset pada tahun ke-N atau lazim disebut sebagai “salvage value” (S).
  • Umur produktif yang menunjukkan lamanya assets tersebut ingin dioperasikan secara ekonomis (N).

Analisa Titik Pulang Pokok (Break Even Analysis)

Analisis Titik Pulang Pokok (B.E. Analysis) merupakan analisis ekonomi yang umum diaplikasikan dalam proses pengambilan keputusan. Dengan analisis ini, maka keputusan mengenai berapa volume produksi harus dibuat agar suatu operasi produksi tetap menguntungkan akan bisa ditetapkan. Analisis dibuat dengan mempertimbangkan unit-unit biaya tetap (fixed costs), biaya variable dan harga (price) per unit produknya Perlu diketahui disini, analisis ini dilaksanakan dengan mengabaikan hal-hal seperti:

  • Kondisi masa yang akan datang yang berkaitan dengan perubahan tingkat kebutuhan yang serba pasti (diasumsikan demand akan konstan).
  • Nilai uang tidak akan berubah seiring dengan periode waktu berjalan (Time Value Of Money). 

Analisa Ekonomi Teknik (Engineering Economics Analysis)

Pertimbangan mengenai alternatif pilihan yang harus diputuskan akan ditinjau dari segi/aspek teknis maupun ekonomis. Aspek ekonomis bersangkut paut dengan investasi (fixed cost) yang dibutuhkan, biaya operasional yang harus dikeluarkan, overhead cost dan lain-lain. Analisa ekonomi teknik (engineering economy analysis) dalam hal ini akan membandingkan perbedaan alternatif-alternatif proyek engineering tadi dalam nilai ekonomisnya yang dinyatakan dalam jumlah uang (cost). Alternatif terbaik dalam memberikan jumlah uang/biaya yang paling kecil (ekonomis).

  • Prosedur evaluasi dan penetapan alternatif proyek teknik dan permasalahannya
  • Konsep bunga pinjaman
    Istilah bunga (interest) bisa diartikan sebagai “the rent paid for the use of money” atau diterjemahkan sebagai nilai sewa terhadap peminjaman sejumlah uang untuk suatu waktu tertentu.
  • Macam-macam interest dan metoda aplikasinya.
    Interest rate umumnya selalu dinyatakan per tahun, terkecuali ada ketetapan lain, bilamana dinyatakan:
    i = 18 % per tahun
    i = 1,5 % per bulan
    i = 4,5 % per tri wulan
    i = 9 % per 1/2 tahun

Perubahan nilai uang karena waktu dan hubungannya dengan interest rate

Uang akan memiliki interest rate tertentu bilamana ditanamkan dalam periode waktu tertentu (1 tahun). Hubungan antara interest dan waktu ini akan membawa pada konsep perubahan nilai uang dalam suatu wak tertentu. Disini nilai uang akan berubah menurut fungsi waktunya, sebab bilamana sejumlah uang dipinjam untuk jangka waktu tertentu, maka jumlah yang harus dibayarkan kembali selanjutnya lebih besar dari jumlah yang telah dipinjam tersebut.


Macam-macam interest dan metoda aplikasinya

Besarnya bunga yang harus dibayarkan pada prinsipnya akan tergantung pada 3 hal:

  • Lama waktu/periode peminjaman (n)
  • Besarnya interest rate yang ditetapkan ( i %)
  • Metode penetapan interest yang diaplikasikan yaitu antara lain metode in interest sederhana (single interest) dan metode interest digabungkan (Compound Interest).

Nominal dan effective interest rate

Banyak transaksi pinjaman uang yang menghitung atau membebani dengan interest rate lebih dan sekali dalam satu tahun, sebagai contoh interest terhadap deposito yang disimpan dalam suatu bank dihitung dan ditambahkan dalam deposito balance sebanyak 4 kali pertahun. Hal ini disebut sebagai “Interest Compounded”. Demikian pula ada yang dibayarkan setiap 6 bulan bahkan ada pula yang diberikan perbulan, perhari, dan sebagainya.
Suatu interest rate sebesar 1,5% perbulan sering kali pula dianggap sama besarnya dengan 18% pertahun, lebih tepat lagi hal ini digambarkan sebagai “nominal interest rate” 18% pertahun yang merupakan penggabungan dari interest rate 1,5% perbulan tadi.



PENGENDALIAN KUALITAS DAN
RELIABILITAS PRODUK


Definisi dan Konsep Pengendalian Kualitas

Secara definitif yang dimaksudkan dengan kualitas atau mutu suatu produk/jasa adalah derajat/tingkatan dimana produk atau jasa tersebut mampu memuaskan keinginan dari konsumer (fitness for use atau tailor made). Pemakai produk/jasa dalam hal ini bisa pula diklasifikasikan menurut:

  • Manufacturer: yaitu orang yang akan melaksanakan proses tambahan sebelum suatu produk jadi (finished product) dibuat. Dengan kata lain manufacturer adalah orang yang memakai bahan baku atau bahan setengah jadi untuk menghasilkan produk akhir yang akan dikonsumsikan langsung oleh konsumen. Dalam kacamata manufacturer, maka “fitness for use” akan memiliki arti sebagai kemampuan untuk melaksanakan proses manufacturing dengan:
    Produktivitas kerja (output per input) tinggi
    Low waste, mudah dikerjakan dan waktu yang terbuang rendah.
    Dan lain-lain.
  • Penjual (merchant): yaitu orang yang akan menjual kembali produk yang bersangkutan. Disini dia lebih bertindak sebagai penyaIur, pemasok ataupun pedagang barang-barang yang dihasilkan oleh manufacturer.
  • Maintenance Shop: yaitu orang yang akan menggunakan produk sebagai suku cadang (spare parts) yang diperlukan dalam kegiatan maintenance/repair.Pembeli/Konsumen: yaitu pemakai langsung dari produk atau jasa (biasanya sudah merupakan produk jadi/akhir).

KUALlTAS DESAIN/RANCANGAN (QUALITY OF DESIGN)
Derajat dimana kelas atau kategori dari suatu produk akan mampu memberikan kepuasan pada konsumer secara umum dinyatakan sebagai kualitas rancangan/desain (quality of design). Dua atau lebih produk meskipun memiliki fungsi yang sama, bisa saja memberikan derajat kepuasan yang berbeda karena adanya perbedaan kualitas dalam rancangannya. Sebagai contoh bisa dilihat pada rancangan televisi berwarna dan tidak berwarna.
Kualitas rancangan secara umum akan banyak dipengaruhi oleh ketiga faktor yaitu aplikasi penggunaan, pertimbangan biaya dan kebutuhan/permintaan pasar (market demand). Berdasarkan ketiga faktor tersebut maka didalam merancang suatu produk haruslah dipertimbangkan masak-masak jangan sampai “over design”.


KUALITAS KESESUAIAN/KESAMAAN (QUALlTY OF CONFORMANCE)
Suatu produk-harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa sesuai (conform) dan memenuhi spesifikasi, standar dan kriteria-kriteria standar kerja lainnya yang telah disepakati. Dalam pemakaian nantinya, maka produk tersebut harus pula sesuai dengan fungsi yang telah dirancang sebelumnya.


Proses Evolusi dalam Proses Pengendalian Kualitas

Berikut tahapan proses pengendalian kualitas sejak dilaksanakan dengan metode sederhana yang melibatkan individu sampai dengan metode yang sedikit kompleks dengan melibatkan semua pihak yang ada dalam perusahaan:

  • OPERATOR QUALITY CONTROL (AKHIR ABAD 19)
    Operator secara umum bertanggung-jawab untuk membuat produk, mengecek dan mengendalikan kualitas produk yang dibuatnya itu.
  • FOREMAN QUALITY CONTROL (1904 -1920)
    Mandor (foreman) memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan pengendalian kualitas dari hasil produk yang dibuat oleh pekerja-pekerja (operator) yang ada dibawah pengawasannya.
  • INSPECTOR QUALITY CONTROL (1921-1939)
    Departemen khusus ini lazim dikenal kemudian sebagai Departement Quality Control atau Quality Assurance dalam struktur organisasi line & functional staff.
  • STATISTICAL QUALITY CONTROL (1940 -1960)
  • KONSEP TOTAL QUALITY CONTROL - TQC (1960 - 1970)
Setiap orang harus terlibat dalam masalah-masalah kualitas produk yang dihasilkan. Masalah kualitas produk bukan hanya tanggung jawab operator, mandor atau departemen pengendalian kualitas saja melainkan merupakan tanggung jawab semua pihak baik level bawah maupun atas.


Keuntungan dan Biaya Pelaksanaan Pengendalian Kualitas

Dengan melaksanakan manajemen kualitas yang sebaik-baiknya, maka banyak keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan dalam hal ini, yaitu antara lain:

  • Menambahkan tingkat efisiensi dan produktivitas kerja
  • Mengurangi kehilangan-kehilangan (losses) dalam proses kerja yang dilakukan seperti mengurangi waste product atau menghilangkan waktu-waktu yang tidak produktif.
  • Menekan biaya dan save money.
  • Menjaga agar penjualan (sales) akan tetap meningkat sehingga profit tetap diperoleh (meningkatkan potensii daya saing).
  • Menambah reliabilitas produk yang dihasilkan.
  • Memperbaiki moral pekerja tetap tinggi.
  • Dan lain-lain.

Analisa Statistik dalam Pengendalian Kualitas

Metode dasar untuk pelaksanaan pengendalian kualitas adalah penggunaan metode statistika yang berupa:

  • Bagan Pengendalian (control chart)
  • Inspeksi berdasarkan sampling
Metode statistika tidak dapat dijalankan tanpa adanya data, dengan demikian data merupakan unsur yang penting didalam pelaksanaan pengendalian kualitas. Fakta yang ada haruslah dapat dicari dan dituangkan dalam bentuk data, karena itu data yang diperoleh harus teliti apakah:

  • Dapat mengungkapkan fakta secara lengkap?
  • Sudah sesuai dengan fakta yang sebenarnya?
MAKSUD DAN TUJUAN PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data akan memiliki kegunaan antara lain:

  • Alat untuk memahami situasi nyata yang sebenarnya.
  • Alat untuk menganalisa keadaan nyata dan permasalahan yang ada.
  • Alat untuk mengendalikan proses atau pekerjaan.
  • Alat untuk pengambilan keputusan.
  • Alat untuk membuat rencana atau perbaikan.

MACAM-MACAM DATA

Data yang diperlukan untuk aktivitas pengendalian mutu pada umumnya bisa diklasifikasikan sebagai:

  • Data hasil pengukuran (measurement data)
    Kadang-kadang disebut sebagai continuous data atau variabel data.
    Contoh: panjang, berat, waktu, dan lain-lain.
  • Data hasil perhitungan (countable data)
    Contoh: jumlah produk cacat, jumlah kesalahan kerja yang dibuat, dan lain-lain.
    Data produk atau hasil kerja disini biasanya dikategorikan sebagai baik atau cacat (atribut data).

Pengenalan Singkat tentang Metode Teknik Pengendalian Kualitas

Lembar Isian (Check Sheet)
Lembar isian merupakan alat bantu untuk memudahkan proses pengumpulan data. Bentuk dan isinya disesuaikan dengan kebutuhan maupun kondisi kerja yang ada. Didalam pengumpulan data maka data yang diambil harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan analisis. Ada beberapa jenis lembar isian yang dikenal dan umum dipergunakan untuk keperluan pengumpulan data, yaitu antara lain:

  • Production Process Distribution Check Sheet
    Lembar isian jenis ini dipergunakan untuk mengumpulkan data yang berasal dari proses produksi atau proses kerja lainnya. Out-put kerja sesuai dengan klasifikasi yang telah ditetapkan untuk dimasukkan dalam lembar kerja, sehingga akhirnya secara langsung akan dapat diperoleh pola distribusi yang terjadi.
  • Defective Check Sheet
    Untuk mengurangi jumlah kesalahan atau cacat yang ada dalam suatu proses kerja, maka terlebih dahulu harus mampu mengidentifikasikan macam kesalahan-kesalahan dalam hal ini bisa diklasifikasikan sebagai hasil kerja yang tidak berkualitas yang ada dan prosentasenya.
  • Defect Location Check Sheet
    Ini adalah sejenis lembar pengecekan dimana gambar sketsa dari benda kerja akan disertakan sehingga lokasi cacat yang terjadi bisa segera diidentifikasi.
  • Defective Cause Check Sheet
    Check sheet ini dipergunakan untuk menganalisa sebab-sebab terjadinya kesalahan dari suatu output kerja. Data yang berkaitan dengan faktor penyebab maupun faktor akibat (jenis/macam kesalahan) akan diatur sedemikian rupa sehingga hubungan sebab-akibat akan menjadi jelas.
  • Check Up Conformation Check Sheet
    Penggunaan check sheet ini pada umumnya lebih menitik-beratkan pada karakteristik kualitas atau cacat-cacat yang terjadi. Sheet disini akan berupa suatu check list yang akan dipergunakan untuk melaksanakan semacam general check up pada akhir proses kerja.
  • Work Sampling Check Sheet
    Sampling kerja adalah suatu metode untuk menganalisa waktu kerja. Dengan berasumsi bahwa idle time dengan alasan apapun merupakan non-quality working time, maka dengan metode sampling kerja ini kita akan dapat menentukan proporsi penggunaan waktu kerja sehari-harinya.

Diagram Sebab-Akibat (Cause and Effect Diagram)

Diagram ini berguna untuk menganalisa dan menemukan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan didalam menentukan karakteristik kualitas out-put kerja. Disamping juga untuk mencari penyebab-penyebab yang sesungguhnya dari suatu masalah.
Ada 4 (empat) prinsip sumbang saran yang bisa diperhatikan yaitu:

  • Jangan melarang seseorang untuk berbicara.
  • Jangan mengkritik pendapat orang lain.
  • Semakin banyak pendapat, maka hasil akhir akan semakin baik.
  • Ambillah manfaat dari ide atau pendapat orang lain.
Untuk mencari faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan kualitas hasil kerja, maka orang akan selalu mendapatkan bahwa ada 5 (lima) faktor penyebab utama yang signifikan yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Manusia (man).
  • Metode kerja (work-method).
  • Mesin atau peralatan kerja lainnya (machine/equipment).
  • Bahan-bahan baku (raw materials).
  • Lingkungan keria (work environment).

Diagram sebab-akibat ini sangat bermanfaat untuk mencari faktor-faktor penyebab sedetail-detailnya (uncountable) dan mencari hubungannya dengan penyimpangan kualitas kerja yang ditimbulkannya.

Pareto Diagram
Diagram Pareto dibuat untuk menemukan masalah atau penyebab yang merupakan kunci dalam penyelesaian masalah dan perbandingan terhadap keseluruhan. Dengan mengetahui penyebab-penyebab yang dominan yang seharusnya pertama kali diatasi, maka kita akan bisa menetapkan prioritas perbaikan.

Diagram Pencar (Scatter Diagram)
Diagram pencar (Scatter Diagram) dipakai untuk melihat korelasi (hubungan) dari suatu faktor penyebab yang berkesinambungan terhadap faktor lain. Dalam hal ini faktor yang lain tersebut adalah merupakan “karakteristik hasil kerja”.


Hal-hal yang Mempengaruhi dan Mencakup Cara Pencapaian Reliabilitas Suatu Produk/Equipment

  • HAMBATAN DAN KESULITAN
    Banyak hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan yang dijumpai untuk mendapatkan reliabilitas yang tinggi dari suatu produk atau equipment.
  • ESTIMASI
    Beberapa perubahan, penyederhanaan, pengurangan parts atau komponen lain dari desain produk yang akan dibuat.
  • REDUNDANCY
    Adalah suatu teknik yang diharapkan akan dapat mengeliminir resiko-resiko yang disebabkan adanya high-failure rate concentration.PARTS ENGINEERING
Reliabilitas suatu sistem pada dasarnya akan banyak bergantung pada derajat reliabilitas dari komponen- komponen (parts) yang membentuknya.

  • FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN (ENVIRONMENT)
    Environmental testing banyak dilakukan orang dengan alasan:
    -  Customer selalu menghendaki bahwa equipment yang dibeli dapat berfungsi secara baik sepanjang masa kerjanya.
    -  Perubahan-perubahan atau modifikasi (demikian juga proses maintenance nantinya) apabila produk sudah terlanjur dipasarkan akan sangat mahal disamping akan memakan waktu tersendiri.
  • ANALISA KESALAHAN
    Untuk membantu pembuatan suatu desain produk perlu dilakukan suatu studi analisa terhadap kesalahan data yang dijumpai pada saat pembuatan, testing, dan feedback dari kustomer langsung, yang berguna untuk:
    -  Memberi tindakan yang bersifat korektif.
    -  Mendeteksi tempat-tempat yang memiliki high-failure rate concentration.
    -  Memberikan jalan keluar dengan teknik redudancy.
    -  Beberapa tindakan “penyelamatan” lainnya.


PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI


Perencanaan dan Pengendalian Kerja Sebagai Fungsi Pokok Manajemen

Perencanaan (yang biasanya akan didahului dengan aktivitas peramalan), pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan (yang diikuti dengan proses pengarahan, pemberian motivasi, dan lain-lain), dan pengawasan merupakan fungsi-fungsi dasar/pokok dari proses manajemen industri. 


Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Perencanaan dan pengendalian produksi diterjemahkan dari istilah Production Planning and Control merupakan aktivitas manajemen produksi/industri yang bertujuan untuk merencanakan dan mengendalikan aliran material (khususnya bahan bnku) yang masuk, melalui berbagai tahapan proses, dan kemudian keluar dari pabrik.


Peramalan Kebutuhan (Forecasting Demand)

Peramalan adalah suatu upaya untuk memperoleh gambaran mengenai apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dalam hal ini gambaran mengenai masa depan tersebut akan menjadi dasar didalam membuat perencanaan. Pengetahuan tentang masa depan juga akan memberikan arah kepada perencana kegiatan produksi untuk mengantisipasikan keadaan dimana hasil perencanaan itu akan berfungsi untuk menentukan target sasaran yang realistic yangharus dicapai.
Dalam peramalan masa depan, ada beberapa metoda (teknik) yang bisa diaplikasikan. Untuk maksud ini, metoda peramalan dapat diklasifikasikan sebagai:

  • Metoda peramalan subyektif/prediktif
    Metoda ini umum diaplikasikan dalam kondisi keterbatasan waktu dan tidak adanya data historis yang tersedia dan cukup banyak jumlahnya untuk melakukan peramalan kondisi yang akan datang.
  • Metoda peramalan sebab-akibat
    Metoda ini terutama sekali baik diapliklasikan untuk meramalkan kejadian-kejadian yang berlangsung dalam jangka waktu pendek dan/atau jangka waktu menengah
  • Metoda peramalan kuadrat terkecil
    Metoda peramalan ini didasarkan pada pernyataan bahwa kondisi-kondisi masa yang akan datang akan sangat tergantung dan ditentukan oleh apa-apa yang terjadi di masa lampau dan/atau masa kini.

Perencanaan Kegiatan

Perencanaan meliputi penetapan keputusan mengenai apa (what) yang diharapkan untuk dikeriakan, kapan (when) hal tersebut akan dikerjakan, siapa (who) yang akan melaksanakannya, dan bagaimana (how) sasaran tujuan akan dicapai. Tidak adanya perencanaan dalam suatu kegiatan bisa diibaratkan sebagai kapal yang berlayar di samudera luas tanpa arah tujuan yang jelas. Bergerak hanya mengikuti kemana arah angin akan bertiup. Perencanaan kegiatan merupakan fungsi dasar penting yang harus dilakukan manajemen dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  • Perencanaan memberikan dasar/landasaan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan kerja
  • Perencanaan akan memiliki kaitan erat dengan fungsi koordinasi, karena salah satu aspek dari perencanaan adalah menuju kearah penggolongan seluruh fungsi-fungsi kegiatan agar memiliki sasaran dan target tujuan yang sama.
  • Perencanaan yang berhubungan erat dengan fungsi pengawasan/pengendalian (control). Hal yang mendasar mengenai fungsi pengendalian akan meliputi proses pengukuran dan mencocokkan hasil kegiatan dengan standard-standard yang dibuat.
  • Perencanaan akan sangat penting karena hal ini bisa memberikan pengaruh terhadap efisiensi dan moral kerja.

Perencanaan Agregat

Perencanaan agregat bertujuan untuk membuat perencanaan produksi untuk memenuhi permintaan (demand) berdasarkan kapasitas produksi yang sesuai. Perencanaan produksi secara sederhana bisa dibuat manakala laju perrnintaan cenderung tetap, tidak berfluktuasi atau konstan.
Metode perencanaan produksi dipilih berdasarkan faktor:

  • External, yaitu tergantung dari tipikal permintaan (pasar) yang dilayani, struktur ekonomi, dan lain-lain; dan
  • Internal, yaitu berdasarkan potensi sumber daya yang dimilikinya.
Selain itu perencanaan juga bisa dibuat berdasarkan periode waktu yang ingin dicakup, seperti:

  • Perencanaan jangka panjang (long-term planning) yang biasanya diaplikasikan untuk hal-hal yang bersifat strategis,
  • Perencanaan jangka menengah yang biasanya diaplikasikan untuk periode waktu 1 tahunan; dan
  • Perencanaan jangka pendek (short-term planning) yang biasanya diaplikasikan untuk aktivitas operasional yang bersifat taktikal.

Pengendalian Persediaan (Inventory Control)

Persediaan merupakan “timbunan” barang (bahan baku, komponen, produk setengah jadi, atau produk akhir, dan lain-lain) yang secara sengaja disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi kelangkaan pada saat proses produksi sedang berlangsung.
Persediaan barang akan berkaitan erat dengan permintaan/kebutuhan dan kapasitas produksi terpasang. Hal ini dapat ditunjukkan dengan berbrgai kemungkinan seperti berikut:

  • Bilamana D = Q. maka akan tercapai kondisi produksi ideal.
  • Bilamana D > Q maka akan diperlukan persediaan (inventori) atau stock barang untuk mengantisipasi kelangkaan.
  • Bilamana D < Q. maka akan terjadi kondisi idle (menganggur) dari fasilitas produksi terpasangnya.
Di sini D adalah permintaan/kebutuhan akan barang pada suatu periode waktu tertentu, sedangkan Q adalah kapasitas produksi terpasangnya. Kondisi ideal (D = Q) pada kenyataannya akan sulit untuk dijumpai, sebaliknya kondisi dimana D > Q atau D < Q akan lebih sering dijumpai dalam proses produksi sehari-harinya.
Untuk melakukan perencanaan dan pengendalian persediaan, maka terlebih dahulu harus diketahui komponen-komponen biaya yang akan dijadikan dasar perhitungannya, antara lain:

  • Biaya pemesanan, yaitu semua biaya yang meliputi biaya administrasi untuk pembelian/pemesanan kepada pemasok (supplier/vendor) dari luar, atau penggantian stok material yang dipakai untuk kegiatan produksi (setting-up).
  • Biaya penyiapan, yang meliputi biaya untuk membuat/memproduksi sendiri produk maupun komponen yang diperlukan.
  • Biaya kelangkaan, yaitu biaya yang harus dikeluarkan sebagai konsekuensi kekurangan atau kelangkaan persediaan.
  • Biaya persediaan, yang terdiri dari biaya seperti untuk interests, sewa gudang, asuransi, pemeliharaan/perawatan; dan tentu saja biaya pembelian barang yang akan tergantung pada harga barang itu sendiri.
  • Biaya (harga) material, yaitu merupakan material per unit yang harus dipesan/dibeli dalam jumlah tertentu sebagai konsekuensi dalam perencanaan persediaan.

February 16, 2017

Manajemen Industri Bagian II

TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI 
DALAM SEBUAH PABRIK


Seperti halnya dengan penentuan lokasi, maka phase perencanaan tata letak fasilitas produksi juga merupakan suatu perencanaan yang penting. Karena pabrik/industri harus beroperasi dalam jangka waktu yang lama, maka kesalahan didalam analisis dan perencanaan layout akan menyebabkan kegiatan produksi berlangsung tidak efektif dan efisien.
Pemilihan material handling cost  sebagai kriteria tujuan/keberhasilan dari layout design disebabkan oleh beberapa alasan pokok, yaitu:

  • Biaya material handling  cukup besar dan terjadi secara kontinyu disamping itu juga termasuk dalam klasifikasi biaya variabel.
  • Biaya material handling dengan mudah akan dapat dihitung.
  • Biaya material handling seringkali akan sangat dipengaruhi oleh desai layout-nya sendiri.


Macam dan Tipe Tata Letak Fasilitas Produksi

Tata Letak Produksi Berdasarkan Aliran Produk
Dengan memakai tata letak tipe aliran produk (product layout), maka segala fasilitas-fasilitas untuk proses produksi (baik proses fabrikasi maupun perakitan) akan diletakkan berdasarkan garis aliran (flow line) dari produk tersebut. Beberapa pertimbangan-pertimbangan berikut ini akan merupakan dasar utama didalam penetapan tata letak fasilitas produksi berdasarkan aliran produk, yaitu:

  • Hanya ada satu atau beberapa standard produk yang dibuat.
  • Produk dibuat dalam jumlah/volume besar untuk jangka waktu relatif lama.’
  • Adanya kemungkinan untuk melakukan motion and time study guna menentukan laju produksi per satuan waktu.
  • Adanya keseimbangan lintasan (line balancing) yang baik antara operator danperalatan produksi, setiap mesin diharapkan menghasilkan jumlah produk per satuan waktu yang sama.
  • Memerlukan aktivitas inspeksi yang sedikit selama proses proses produksi berlangsung.
  • Satu mesin hanya digunakan untuk melaksanakan satu macam operasi kerja dari jenis komponen yang serupa.
  • Aktivitas pemindahan bahan dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya dilaksanakan secara mekanis, umumnya dengan menggunakan conveyor.
  • Mesin-mesin yang berat dan memerlukan perawatan khusus jarang sekali dipergunakan dalam hal ini. Mesin produksi yang diaplikasikan biasanya dipilih tipe special purpose machine.

Selanjutnya keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh untuk pengaturan berdasarkan aliran produk dapat dinyatakan sebagai berikut:

  • Biaya material handling rendah karena disini aktivitas pemindahan bahan menurut jarak yang terpendek. Hal ini bisa teradi karena layout diatur berdasarkan urutan operasi sehingga menghasilkan garis aliran produksi yang lancar dan logis.
  • Total waktu yang dipergunakan untuk produksi relatif singkat.
  • Work process jarang terjadi karena lintasan produksi sudah diseimbangkan dan output dari satu proses langsung akan dipergunakan sebagai input dalam proses berikutnya.
  • Adanya insentive bagi kelompok karyawan akan dapat memberikan motivasi guna meningkatkan produktivitas kerjanya. Selain itu tidak diperlukan operator yang memiliki skilI terlalu tinggi, sehingga biaya operator relatif rendah.
  • Tiap unit produksi atau stasiun kerja memerlukan luas area yang mininmal, karena disini tidak diperlukan work-in process storage.
  • Perencanaan dan pengendalian proses produksi akan mudah dilaksanakan.

Kekurangan atau kerugian dalam ap1ikasi product layout:

  • Adanya breakdown dari satu mesin akan menyebabkan seluruh aliran produksi akan berhenti pula. Disini tidak dimungkinkan untuk mengalihkan ke aliran kegiatan produksi yang lain karena bisa mengganggu.
  • Karena layout diatur berdasarkan macam produk yang akan dibuat, maka perubahan didalam produk akan memerlukan perombakan yang prinsipil dari aliran produk atau layoutnya.
  • Laju proses produksi atau siklus waktu kegiatan akan ditentukan oleh proses mesin yang paling lambat.
  • Investasi yang tinggi untuk mesin yang dipergunakan (special purpose machine) dan seringkali pula dijumpai adanya ketidak-efisienan didalam utilisasi mesin


Tata Letak Produksi Berdasarkan Aliran Proses
Tata letak berdasarkan aliran proses (process layout) seringkali disebutkan pula dengan functional layout adalah metode pengaturan dan penempatan dari mesin dan segal fasilitasproduksi dengan tipe/macam yang sama dalam sebuah departemen. Dasar-dasar pertimbangan didalam menetukan layout berdasarkan aliran proses ini:

  • Produk yang dibuat terdiri dari berbagai macam model/tipe produk. Volume dari setiap produk dibuat dalam jumlah kecil dan jangka waktu yang relatif singkat pula.
  • Aktivitas motion & time study untuk menentukan metoda dan waktu standard kerja sulit dilaksanakan karena jenis kegiatan yang berubah-ubah.
  • Sulit untuk mengatur keseimbangan kerja (line balancing), antara kegiatan manusia dan mesin.
  • Memerlukan pengawasan yang banyak selama langkah-langkah sedang berlangsung.
  • Satu tipe mesin biasanya mampu melakukan berbagai macam fungsi atau operasi kerja. Mesin dalam hal ini dipilihkan dalam tipe general purpose machine.
  • Banyak menggunakan peralatan berat khususnya untuk kegiatan material handling dan memerlukan perawatan khusus.

Analisa keuntungan aplikasi layout menurut aliran proses, yaitu:

  • Total investasi yang rendah untuk pembelian mesin dan/atau peralatan produksi lainnya karena disini yang dipergunakan adalah mesin-mesin dengan tipe yang umum (general purpose). 
  • Mudah untuk mengatasi breakdown mesin, yaitu dengan cara memindahkannya ke mesin yang lain tanpa khawatir akan mengganggu aliran produk yang lain.
  • Kemungkinan adanya aktivitas supervisi yang lebih baik dan efisien melalui spesialisasi kerja. Bagi operator mesin juga dimungkinkan adanya tawaran untuk menjalankan fungsi keria yang lain (diversifikasi kegiatan) sehingga hal ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja.


Tata letak berdasarkan aliran proses (process layout) memiliki beberapa hambatan (kerugian) seperti:

  • Karena garis produksi jauh lebih panjang, maka material handling cost juga lebih mahal.
  • Total waktu produksi biasanya akan lebih lama. Disamping itu juga sejumlah besar work-in process layout akan dijumpai karena disini waktu operasi dari stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya sulit untuk diseimbangkan.
  • Karena diversifikasi produk yang dihadapi (job order), maka diperlukan operator yang memiliki skill tinggi untuk mengoperasikan mesin untuk berbagai jenis produk yang ingin dihasilkan tersebut.
  • Sistem perencanaan dan pengendalian produksi akan jauh lebih kompleks dan membutuhkan ketelitian didalam ana1isisnya. Hal ini terutama menyangkut pembebanan mesin, pengendalian persediaan, dan lain-lain.


Tata Letak Produksi Berdasarkan Posisi Tetap
Untuk tata letak berdasarkan posisi tetap, material dan komponen dari produk utamanya akan tinggal tetap pada posisi/lokasinya, sedangkan fasilitas produksi seperti tools, mesin, manusia serta komponen-komponen kecil lainnya akan bergerak rnenuju lokasi material atau komponen produk utama tersebut. Contoh nyata layout tipe ini bisa dijumpai dalam industri perakitan pesawat terbang, ship building, dan lain-lain.


Perencanaan Tata Letak Secara Sistematis

Suatu pendekatan sistematis dan terorganisir untuk perencanaan tata letak fasilitas produksi lebih diintroduksikan oleh Richard Muther (1973) yang dikenal dengan Systematic Layout Planning (SLP). SLP banyak diaplikasikan untuk berbagai macam persoalan, meliputi problem produksi, transportasi, pergudangan, supporting services, dan aktivitas-aktivitas yang dijumpai dalam perkantoran (office layout).

1. Langkah Awal: Pengumpulan Data Masukan & Aktivitas
Agar analisa layout bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka terlebih dahulu perlu dikumpulkan data yang berkaita dengan aktiviatas pabrik seperti desain produk yang akan dibuat, proses dan penjadwalan (schedule) kerja, dan lain-lain.

Langkah 1: Analisa Aliran Material
Analisa aliran material (flow of materials analyst) akan berkaitan dengan usaha-usaha analisa pengukuran kuantitatif untuk setiap perpindahan gerakan material diantara departemen-departemen atau aktivitas-aktivitas operasional.

Langkah 2: Analisa Hubungan Aktivitas Kerja
Analisa aliran material dengan aplikasi dalam bentuk peta proses (flow process chart) cenderung untuk mencari hubungan aktivitas pemindahan material secara kuantitatif. Sebagai tolak ukur disini adalah total material handling yang minimal.

Langkah 3: Penyusunan String Diagram
Langkah ini mencoba merangkum langkah 1 dan 2, dimana posisi mesin akan diatur letaknya dan kemudian dihubungkan dengan garis (string) sesuai dengan jarak pemindahan materialnya.

Langkah 4: Kebutuhan Luas Area
Langkah ini bisa disebut dengan langkah “penyesuaian”. Disini penyesuaian harus dilaksanakan dengan memperhatikan luas area yang diperlukan.

Langkah 5: Pertimbangan Terhadap Luas Area yang Tersedia
Dalam beberapa kasus untuk problem relayout, seringkali layout yang didesain harus disesuaikan dengan luas bangunan pabrik yang tersedia.

Langkah 6: Pembuatan Space Relationship Diagram
Langkah ke-6 pada dasarnya merupakan modifikasi dari langkah 3. Dengan menggunakan pertimbangan yang telah dilakukan di langkah 4 dan 5, maka layout yang direncanakan dapat dikonstruksikan secara sebenarnya berdasarkan string diagram yang sudah tersusun dalam langkah 3 tersebut.

Langkah 7 & 8: Modifikasi Layout Berdasarkan Pertimbangan Praktis
Hal-hal yang berkaitan dengan bentuk bangunan, letak kolom penyangga, lokasi piping sistem, dan lain-lain merupakan dasar pertimbangan untuk memperbaiki alternatif desain layout yang diusulkan

Langkah 9 & 10: Pemilihan & Evaluasi Alternatif Layout 
Langkah terakhir ini adalah untuk mengambil keputusan terhadap usulan cesain layout yang harus dipilih/diaplikasikan.


PERANCANGAN TATA CARA DAN 
PENGUKURAN KERJA


Di dalam perancangan stasiun kerja yang efektif dan efisien (serta tidak boleh dilupakan faktor aman, sehat dan nyaman) maka hal pokok yang dipelajari disini akan berkaitan dengan prosedur-prosedur yang harus ditempuh didalam pelaksanaan kerja terutama sekali yang menyangkut metoda atau tata cara kerja. Disini hal-hal yang berhubungan dengan gerakan-gerakan (motion) kerja ataupun metoda kerja yang sederhana dan mudah dilaksanakan haruslah dianalisa serta diaplikasikan. Prinsip ekonomi gerakan (motion economy) ataupun penyederhanaan kerja (work-simplification) merupakan satu landasan yang penting didalam analisis desain kerja dan harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pengukuran kerja.


Penyederhanaan Kerja (Work Simplification) Sebagai Upaya Perbaikan Rancangan Tata Kerja

Penyederhanaan kerja pada hakikatnya bertujuan untuk mencari cara kerja yang lebih mudah, lebih cepat, lebih efisien dan menghindari pemborosan-pemborosan material, waktu, tenaga, dan lain-lain. Untuk melaksanakan penyederhanaan kerja dapat dinyatakan dalam 5 (lima) langkah sebagai berikut:

  • Pemilihan kegiatan kerja yang diperbaiki. Langkah in merupakan langkah awa1 yang harus dilaksanakan. Kegiatan kegiatan yang dianggap tidak efisien, penyelesaiannya lambat, dan lain-lain akan merupakan pertimbangan pokok dalam pemilihan obyek studi.
  • Pengumpulan dan pencatatan data/fakta. Langkah kedua adalah mengumpulkan dan mencatat semua data/ fakta yan berkaitan dengan metoda kerja yang selama ini dilaksanakan menyangkut antara lain informasi-informasi yang berkaitan dengan urutan kegiatan, gerakan-gerakan kerja, layout, dan lain-lain.
  • Analisa terhadap langkah-langkah kerja. Metoda kerja yang dilaksanakan sekarang dianalisa. Langkah-langkah yang dinilai tidak efisien dicari sebab-sebabnya dan dicari altenatif pemecahannya agar menjadi lebih baik.
  • Usulan dan pengujian alternatif metoda kerja yang lebih baik. Dari langkah analisis yang dilaksanakan sebelumnya maka diusulkan kemudian langkah atau metoda kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien. Sebelum usulan tersebut diputuskan sebagai alternatif terpilih terlebih dahulu perlu diuji-cobakan.
  • Aplikasi dan evaluasi metoda kerja baru. Langkah terakhir adalah mengaplikasikan alternatif metoda kerja yang lebih baik untuk menggantikan metoda kerja lama dan kemudian mengevaluasinya kembali bilamana dirasakan perlu perbaikan.


Prinsip-prinsip Ekonomi Gerakan (Motion Economy) Sebagai Landasan Pokok Perancanaan Tata Cara Kerja

Didalam menganalisa dan mengevaluasi metoda kerja guna memperoleh metoda kerja yang lebih efisien, maka perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (the principles of motion economy) Prinsip ekonomi gerakan ini bisa dipergunakan untuk menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya.


Ergonomi: Faktor Manusia dalam Sebuah Sistem 

Salah satu dari faktor-faktor yang penting~ing menunjukkan karakteristik masyarakat industri yang hidup di negara maju ialah banyaknya orang yang hidup dalam lingkungan fisik yang merupakan hasil budidaya manusia (man-made). Hal ini akan kontras sekali dengan kehidupan masa lampau disaat kebanyakan dari mereka masih hidup dalam lingkungan alam yang asli (natural environment). Hasil-hasil fisik buatan manusia meliputi banyak hal seperti: bangunan gedung, mesin, peralatan kerja, kendaraan, jalan raya, dan lain-lain.
Ergonomi atau ergonomics (bahasa Inggris-nya) sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergo yang berarti keria dan Nomos yang berarti hukum. Dengan demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.
Human engineering atau sering pula disebut sebagai ergonomi didefinisikan sebagai perancangan “man-machine interface” sehingga pekerja dan mesin (atau produk lainnya) bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai sistem manusia-mesin yang terpadu. Disiplin human engineering atau ergonomi banyak diaplikasikan dalam berbagai proses perancangan produk (man-made objects) ataupun operasi kerja sehari-harinya.
Dari industri singkat yang telah diuraikan di atas maka dapat ditarik beberapa pokok-pokok kesimpulan mengenai disiplin ergonomi, yaitu sebagai berikut:

  • Fokus perhatian dari ergonomi ialah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia didalam perancangan “man-made objects” dan lingkungan kerja. Pendekatan Ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan dan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Secara sistematis pendekatan Ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan dapat tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia.
  • Secara definitif Ergonomi bisa dinyatakan sebagai “a dicipline concerned with designing man-made objects (equipments) so that people can use them effectively and safety and creating environments suitable for human living and work”. Dengan demikian jelas bahwa pendekatan ergonomi akan mampu menimbulkan “functional effectiveness” dan kenikmatan-kenikmatan pemakaian dari peralatan, fasilitas maupun lingkungan kerja yang dirancang.
  • Maksud dan tujuan utama dari pendekatan disiplin ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, accuracy, keselamatan kerja disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat. 
  • Pendekatan khusus yang ada dalam disiplin ergonomi ialah aplikasi yang sistematis dari segala informasi yang relevan yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia didalam perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai. 


Interaksi Manusia dan Mesin dalam Sebuah Sistem Kerja (Man-Machine Systems)

Pendekatan sistem (system approach) akan dimaksudkan sebagai pendekatan yang memperhatikan setiap permasalahan secara total atau terpadu (integral). Pemecahan masalah dalam hal ini harus dianalisa dengan melihat keterkaitan antara satu sistem dengan sub-sistem yang lainnya. Selanjutnya yang dimaksudkan dengan sistem manusia-mesin ialah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu atau beberapa mesin, dimana salah satu dengan lainnya akan saling berinteraksi untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh.
Dengan mesin maka disini akan diartikan secara luas, yaitu mencakup semua obyek fisik seperti mesin, peralatan, perlengkapan fasilitas dan benda-benda yang biasa dipergunakan dalam sistem manusia-mesin


Penelitian Kerja dalam Kaitannya dengan Upaya Peningkatan Produktivitas

Analisa dan penelitian kerja, istilah yang diterjemahkan dari kata Work Study, Work Design atau Job Design adalah suatu aktivitas yang ditujukan untuk mempelajari prinsip-prinsip dan teknik-teknik mendapatkan rancangan sistem dan tata keria yang paling efektif dan efisien. Prinsip maupun teknik-teknik tersebut diaplikasikan guna mengatur komponen-komponen kerja yang terlibat dalam sebuah sistem kerja seperti manusia (dengan memperhatikan kelebihan maupun keterbatasannya), bahan baku, mesin, fasilitas kerja lainnya, serta lingkungan kerja fisik yang ada sedemikian rupa sehingga dicapai tingkat efektivitas dan efisiensi kerja yang tinggi yang diukur dari waktu yang dikonsumsikan, tenaga (energi) yang dipakai serta dampak sosio-psikologis yang ditimbulkannya.
Pada hakikatnya maka aktivitas penelitian kerja ini akan mencoba menganalisa dan meneliti tiga hal, yaitu:

  • Siapa (who) yang akan melaksanakan kegiatan/kerja tersebut Sudahkah pekerja yang akan melaksanakan kegiatan ini dipilih sesuai dengan persyaratan (job requiremen)t yang ada?
  • Bagaimanakah (how) kegiatan tersebut akan diselesaikan? Adakah metode kerja yang diterapkan sudah dirancang dengan sebaik-baiknya ditinjau dari aspek kecepatan, kesederhanaan, kemudahan maupun ketelitian penyelesaiannya Bagaimanakah dengan penggunaan fasilitas kerja, apakah sudah dipilihkan fasilitas kerja yang mampu diaplikasikan guna memberikan penyelesaian dan hasil keria yang lebih efektif dan efisien?
  • Dimanakah (where) kegiatan tersebut diselenggarakan? Apakah lingkungan dan kondisi tempat kerja sudah dirancang secara layak, guna memberikan kenyamanan dan keamanan bagi manusia maupun fasilitas kerja yang diinvestasikan dengan nilai mahal ?


Pengukuran Kerja: Macam dan Prosedur Penetapan Waktu (Out-Put Standard)

Pengukuran kerja yang dimaksudkan disini adalah pengukuran waktu kerja (time study) adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator (yang memiliki skill rata-rata dan terlatih baik dalam melaksanakan sebuah kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo kerja yang normal. Tujuan pokok dari aktivitas ini dengan sendirinya akan berkaitan erat dengan usaha menetapkan waktu baku (standard time). Secara historis dijumpai dua macam pendekatan didalam menentukan waktu baku ini, yaitu pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) dan pendekatan dari atas ke bawah (top-down).
Untuk menjelaskan prosedur penentuan waktu baku dengan pendekatan bottom-up maka terlebih dahulu dipahami beberapa definisi berikut:

  • Waktu normal (normal time). Waktu yang diperlukan untuk seorang operator yang terlatih dan memiliki ketrampilan rata-rata untuk melaksanakan suatu aktivitas dibawah kondisi dan tempo kerja normal. Waktu normal disini tidak termasuk waktu longgar yang diperlukan untuk melepas lelah ataupun delay yang diperlukan bilamana kegiatan kerja tersebut harus dilaksanakan dalam waktu sehari penuh (8 jam/hari).
  • Tempo kerja normal (normal pace). Merupakan tempo kerja atau performansi kerja yang ditunjukkan oleh seorang operator yang memiliki ketrampilan rata-rata, terlatih baik dan dengan kesadaran tinggi mau bekerja secara “normal” (tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlalu lambat) selama 8 jam/hari (1 shift kerja)
  • Waktu pengamatan (actual time). Adalah waktu pengamatan yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran waktu yang diperlukan seorang operator untuk menyelesaikan sebuah aktivitas atau elemen kerja.
  • Kelonggaran waktu (allowance time). Merupakan sejumlah waktu yang harus ditambahkan dalam waktu normal (normal time) untuk mengantisipasi terhadap kebutuhan-kebutuhan waktu guna melepaskan lelah (fatique), kebutuhan-kebutuhan yang bersifat pribadi (personal needs) dan kondisi-kondisi menunggu/menganggur baik yang bisa dihindarkan ataupun tidak bisa dihindarkan.


Pengukuran waktu kerja akan menghasilkan waktu atau output standard yang mana hal tersebut kemudian bermanfaat untuk:

  • man power planning
  • estimasi biaya-biaya untuk upah karyawan/pekerja
  • penjadwalan produksi dan penganggaran
  • perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan atau pekeria yang berprestasi.
  • indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.


Umumnya penetapan waktu standard dilaksanakan dengan cara pengukuran kerja, seperti:

  • Stopwatch Time Study
  • Sampling Kerja (Work Sampling & Rasio Delay Study)
  • Standard Data
  • Predetermined Motion Time System

Stopwatch Time Study dan Sampling Kerja adalah cara pengukuran kerja secara langsung. Keduanya umum diaplikasikan guna menetapkan waktu standard ataupun mengukur kondisi kerja yang tidak produktif.


ORGANISASI INDUSTRI DAN KOMPENSASI 
FINANSIAL 


Teori tentang Organisasi Kerja di Industri

Disini teori atau prinsip tentang organisasi kerja bisa dikelompokkan ke dalam tiga pemikiran atau pandangan, yaitu:

  • Pertama, teori klasik yang menekankan pada pendekatan ilmiah (scientific management) dan, teori organisasi klasik (classical organization theory),
  • Kedua, teori yang lebih menekankan pada hubungan antar manusia dan perilaku-perilakunya (behavioral theory), dan
  • Ketiga, teori yang mengembangkan pendekatan-pendekatan kuantitatif untuk menghadapi problem-problem organisasi yang kompleks dengan mengaplikasikan model dan perhitungan matematis (management science, operation search, dan lain-lain).


Pandangan Klasik tentang Organisasi Kerja

Istilah organisasi konon berasal dari kata “organ” yang berarti alat, perkakas, komponen, dan sebagainya. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan organisasi tak pelak diartikan sebagai upaya untuk menyusun organ-organ tadi dalam suatu kesalahan fungsi yang mengarah ke suatu tujuan yang telah diidentifikasikan dan diformulasikan sebelumnya.
Bilamana mesin dimaksudkan sebagai suatu kumpulan organ-organ mekanik atau onderdil-onderdil yang ditata ke dalam satu kesatuan wujud mekanik yang dapat dioperasikan untuk memenuhi fungsi kerja tertentu, maka organisasi kerja dalam hal ini bisa pula diartikan sebagai kumpulan dari satuan-satuan kegiatan seringkali disebut dengan peranan dan jabatan yang ditata dalam satu-kesatuan tunggal yang operasional. Satuan-satuan kegiatan tersebut akan terdiri atas oknum-oknum manusia yang memiliki Peran dan jabatan yang sudah ditentukan dan ditetapkan oleh perancang organisasi kerja.


Pandangan Baru tentang Pentingnya Faktor Manusia dalam Organisasi Kerja

Teori ataupun konsepsi mengenai pendekatan klasik ternyata banyak menjumpai kritik maupun keterbatasan didalam aplikasinya di lapangan. Harapan mengenai tercapainya peningkatan produktivitas dan suasana kerja yang harmonis ternyata tidak bisa diperoleh sepenuhnya. Manajemen industri dalam hal ini masih mempunyai banyak kesulitan dan rasa frustasi, karena ternyata performans pekerja tidak selalu bisa mengikuti prediksi ataupun pola perilaku rasional yang telah dibayangkan sebelumnya.
Untuk mengendalikan sebuah perangkat mesin mekanik, orang tinggal memencet sebuah tombol switch on -switch off. Mengontrol tombol berarti mengontrol seluruh operasi kerja mesin tersebut. Dengan demikian seorang insinyur pada saat merancang sebuah mesin ataupun mekanisme kerja lainnya (harap diingat bahwa ciri khas dari profesi keinsinyuran ini tidaklah terlepas dari kemampuan dan kreativitasnya untuk merancang bangun), insinyur tersebut harus merancang tata-tertib operasional mesin dan segala tata cara pengendaliannya. Manusia adalah "mesin" dengan program yang berubah-ubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada sang pengendalinya (manajemen).


Organisasi Industri, Pendekatan Sistem dan Permodelannya

Organisasi terdiri dari sekumpulan manusia yang memiliki peran, jabatan atau fungsi masing-masing dan bersepakat melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang telah direncanakan. Sebuah organisasi yang berbentuk secara formal akan memiliki kejelasan-kejelasan dalam hal:

  • Struktur formal melalui wadah-wadah yang diwujudkan dalam departemen-departemen yang ada.
  • Peran dan fungsi yang dinyatakan dalam wewenang dan tanggung jawab masing-masing yang sesuai dengan deskripsi jabatannya.
  • Hirarki dan interaksi hubungan antar masing-masing wadah yang berstruktur tadi.

Organisasi dengan berbagai tipenya (industri, perusahaan, perguruan tinggi, ormas/ orpol, dan sebagainya) dapat dikelompokkan menurut model-modelnya sebagai berikut:

  • Community Model. Model yang dilihat sebagai sebuah kumpulan orang. Disini organisasi diasumsikan memiliki sejumlah nilai yang didukung dan menyatukan para anggotanya dalam suasana yang bebas dan akrab seperti halnya yang mereka jumpai di rumah masing-masing (suasana yang lazim disebut dengan “at home”). Semakin besar struktur dan volume organisasi akan memperlemah asumsi ini.
  • Bureaucratic Model. Model ini akan melihat organisasi sebagai suatu sosok yang memiliki bentuk struktur yang: tersusun secara hirarkis dan berdasarkan fungsi-fungsi serta tugas-tugas yang terspesialisasi secara konkrit, berjalan berdasarkan aturan-aturan yang rasional dan tidak pandang bulu (impersonal), terkoordinasi untuk diarah-kendalikan menuju tercapainya sasaran-sasaran tertentu. Semakin besar volume ini. Model ini memiliki kesan yang formal dan umumnya diaplikasikan untuk organisasi-organisasi usaha.
  • Conflict Model. Model ini akan melihat organisasi sebagai sekumpulan manusia yang memiliki kepentingan yang berbeda bahkan cenderung bertentangan satu dengan yang lainnya.
  • Multiversity Model. Organisasi akan dipandang sebagai wadah atau tempat bergabungnya berbagai macam manusia atau kelompok manusia yang tumbuh dan berkembang dengan latar belakang kebudayaan berbeda.


Pengorganisasian sebagai Fungsi Dasar Manajemen

Istilah organisasi cenderung diartikan sebagai wadah atau tempat berrhimpunnya komponen-komponen organisasi (manusia dan segala fasilitas kerjanya) yang ditata untuk membentuk sebuah struktur rancang bangun. Di lain pihak kalau kita menyebutkan istilah “pengorganisasian” sebagai kata kerja, maka hal ini akan berarti proses kegiatan untuk merekayasa komponen-komponen organisasi tadi agar bisa membentuk struktur rancang bangun dan berfungsi memenuhi kebutuhan yang dikehendaki. Pengorganisasian (organizing) merupakan salah satu fungsi dasar manajemen selain perencanaan (plarnning), penggerakan (actuating) dan pengendalian (controlling). Dengan pengorganisasian, maka selain dilakukan pembentukan departemen-departemen, penetapan wewenang, tanggung jawab, hirarki organisasi, yang tidak kalah pentingnya adalah penetapan orang-orang yang layak dan tepat untuk menduduki jabatan-jabatan tersebut.


Organisasi Indutri dan Kiat Pengelolaannya

Dunia Industri merupakan suatu organisasi kerja yang sangat kompleks, disini akan dijumpai banyak sumber-sumber input yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Manajemen harus mampu mengalokasikan secara optimal segala sumber untuk di“input”kan ke dalam langkah-langkah operasional yang ada. Selain itu harus juga mampu mengindentifikasi dan mengevaluasi hubungan/interaksi dari komponen-komponen dari sistem organisasi kerja yang terlihat. Berhadapan dengan faktor produksi pasif (obyek berupa material fisik atau mesin) maka disini manajemen akan menjumpai segala sesuatu yang serba pasti; dimana semua problem yang dihadapi mampu diidentifikasikan secara nyata melalui analisis perhitungan dan logika-logika yang rasional.
Perbedaan wawasan yang harus dihadapi oleh manajemen di dalam mengelola material/mesin (sumber produksi pasif) dan manusia (sumber produksi aktif) selanjutnya dapat diskematiskan sebagai benkut:
Sumber Produksi Pasif (Material, Mesin, dan sebagainya)

  • Problem terdefinisi/terformulasi secara jelas dan nyata. 
  • Obyek yang dihadapi berupa fisik (material sub-system). 
  • Permasalahan serba eksak/pasti (complete certaity).
  • Asumsi yang diambil cenderung berlaku selamanya (kontinyu).
  • Segala keputusan yang diambil berdasarkan data konkrit dan perhitungan-perhitungan secara analitis dan kuantitatif.

Sumber Produksi Aktif (Manus~)

  • Problem sulit didefinisikan/diformulasikan jelas dan nyata.
  • Obyek yang dihadapi berupa manusia dengan perilaku-perilakunya (human sub-system).
  • Permasalahan tidak pasti, sulit diduga dan berubah-ubah.
  • Asumsi terputus putus dan tidak tentu/kontinyu.
  • Keputusan cenderung menggunakan kepekaan, intuisi, pertimbangan rasa, seni, dan kiat menghadapi manusia.


Organisasi Industri: Struktur dan Prosedur Pembentukannya

Pengorganisasian merupakan langkah menuju pelaksanaan rencana (planning) yang telah disusun sebelumnya. Sebagai sebuah proses manajemen, proses pengorganisasian akan meliputi rangkaian kegiatan yang bermula pada orientasi terhadap tujuan yang direncanakan untuk dicapai dan berakhir pada saat kerangka (struktur) organisasi yang dibuat telah dilengkapi dengan prosedur, metode kerja, kewenangan, personalia dan fasilitas yang dibutuhkan. Secara berurutan prosedur pengorganisasiar tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Perumusan tujuan. Disini akan dirumuskan secara jelas mengenai bidang, ruang lingkup sasaran, keahlian dan ketrampilan dari personalia yang terlibat, peralatan maupun fasilitas kerja yang diperlukan, jangka waktu dan cara pencapaian.
  • Pengelompokan kegiatan sesuai fungsi-fungsinya. Kegiatan yang harus dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan tujuan organisasi sangat banyak dan bervariasi sekali. Antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain ada yang sama, memiliki kaitan erat, tetapi ada pula yang tampak jelas perbedaannya.
  • Departementasi. Adalah proses untuk mempertegas fungsi dengan memberikan wadah konkrit berupa satuan-satuan organisasi. 
  • Penetapan otoritas. Otoritas organisasi pada hakikatnya menyangkut pemberian hak atau kekuasaan untuk bertindak atau memberi perintah ataupun menimbulkan tindakan-tindakan terhadap orang lain.
  • Staffing. Proses staffing adalah penempatan orang pada satuan-satuan organisasi yang telah dibentuk dalam proses departementasi.
  • Facilitating. Proses facilitating disini dimaksudkan untuk memberikan kelengkapan organisasi lain yang “non-human” yaitu berupa fasilitas ataupun peralatan materiil dan keuangan.

Sebuah struktur akan menunjukkan rancangan organisasi yang utama. Sebagian besar organisasi pada saat sekarang ini akan memiliki struktur yang diambilkan dari lima alternatif bentuk struktur seperti:

  • Simple structure. Strukur yang sederhana sekali yang dilaksanakan sebagai struktur yang tidak formal. Tipe ini umum dijumpai dalam perusahaan berskala kecil, dimana manajer umumnya juga pemilik dari pemilik dari perusahaan itu sendiri.
  • Functional structure. Disini organisasi diatur berdasarkan pengelompokan aktivitas dan tugas yang sama untuk membentuk unit unit kerja seperti produksi/operasi, pemasaran, keuangan personalia, dan sebagainya yang memiliki fungsi yang terspesialisasi.
  • Multidivisional structure. Bilamana sebuah organisasi usaha melakuan diversifikasi terhadap produk yang dikeluarkannya, atau lini pelayanannya (yang meliputi area geografis yang lebih luas dan memaksanya untuk menggunakan jalur pemasaran yang berbeda pula), ataupun harus melayani kelompok pelanggan yang berbeda dengan yang biasa dilayani sebelumnya, maka digunakan struktur organisasi divisi banyak (multidivision structure orgninization) dicoba untuk diaplikasikan.
  • Strategic business unit structure. Beberapa organisasi akan menjumpai banyak kesulitan untuk mengendalikan operasi dari divisi-divisinya yang semakin bertambah banyak. Dalam kondisi seperti itu, maka diperlukan satu penambahan lapisan (level) manajemen agar azas rentang kendali bisa dipenuhi. Satu cara yang dianggap efektif disini adalah mencoba mengelompokkan divisi dalam satuan urut yang memiliki elemen strategis yang sama. 
  • Holding Company Structure. Holding Company adalah sebuah perusahaan yang sangat padat dengan investasi. Disini peranan dari perusahaan induk terhadap anak perusahaannya tidaklah terlalu dominan terutama keterlibatannya dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis.
  • Matrix structure. Struktur organisasi matrix merupakan kombinasi dari berbagai macam struktur. Biasanya dalam hal ini berbentuk divisi produk, geografis area, fungsional, aktivitas khusus (project) yang kemudian dioperasikan secara bergandengan dengan struktur divisi utamanya.

Perencanaan Organisasi di Masa Depan

Untuk bertahun-tahun Iamanya struktur dasar yang dipergunakan untuk membuat rancangan organisasi adalah berbentuk piramidal (the classic pyramid). Meskipun kondisi ini masih tetap akan dipertahanakan oleh sebagian besar organisasi yang ada, tetapi beberapa pemikiran d ngan mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi di masa datang, melihat rancangan organisasi di masa depan tidak akan lagi berbentuk struktural yang berorientasi piramidal melainkan akan menampakkan diri daIam bentuk lain yang memiliki ciri-ciri seperti:

  • Jumlah tingkatan manajemen yang lebih baik. Organisasi masa depan tampaknya ingin mengurangi kesenjangan baik fisik maupun psikologis antara level puncak dan bawah dari struktur yang ada.
  • Adhocracy & Porous Departements. Organisasi masa depan kiranya cenderung akan lebih akomodatif untuk menerima konsep “adhocracy” yaitu suatu federasi dari unit-unit aktivitas yang relatif memiliki kebebasan beroperasi dengan semangat entrepreneur.
  • Pelepasan sistem dari ikatan strukturnya. Konsep yang ingin diterapkan dalam rancangan organisasi masa depan ini adalah bahwa sistem yang diterapkan haruslah dikaitkan dengan prestasi individu, bukannya pada unit organisasi yang bersangkutan ditempatkan.
  • Pemakaian secara bersama segala sumber (resources) yang digunakan. Kekuatan-kekuatar yang dimiliki dari organisasi berupa sumber-sumber untuk aktivitas produksi, pemasaran, engineering, keuangan dan sebagainya yang dikelola secara bersama dan tersentralisir akan membuat organisasi lebih efektif dan efisien didalam menghadapi kesempatan-kesempatan usaha yang muncul.


Analisa dan Evaluasi Jabatan

Analisa jabatan merupakan suatu usaha dan proses untuk mendapatkan berbagai informasi tentang suatu jabatan melalui metode-metode tertentu. Sedemikian rupa sehingga bisa disusun suatu diskripsi yang utuh dan jelas tentang jabatan tersebut. Didalam membuat analisa jabatan ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Analisa jabatan hendaknya mampu memberikan fakta yang penting dan yang ada kaitan langsung dengan jabatan tersebut. Fakta-fakta mana yang penting akan tergantung pada tujuan atau untuk apa hasil-hasil analisis tersebut akan dimanfaatkan nantinya.
  • Analisis jabatan hendaknya bisa memberikan fakta-fakta yang diperlukan untuk bermacam-macam tujuan. Apabila untuk masing-masing tujuan dibuatkan analisis jabatan tersendiri maka hal ini akan memerlukan biaya yang besar.
  • Analisis jabatan hendaknya sering ditinjau kembali dan apabila perlu diperbaiki. Dalam organisasi yang besar jabatan-jabatan tersebut tidak statis, sering mengalami perubahan berhubung adanya perubahan dalam proses produksi material, metode ataupun peralatan kerja yang dipergunakan Dengan demikian analisis jabatan akan merupakan program yang berlangsung secara dinamis
  • Analisis jabatan hendaknya dapat menunjukkan tugas, tugas apa yang penting diantara beberapa tugas dalam tiap jabatan.
  • Analisis jabatan hendaknya dapat memberikan informasi yang tepat, lengkap dan dapat dipercaya. Untuk memperoleh data yang demikian tersebut diperlukan adanya langkah-langkah yang tepat yang dilakukan oleh para ahli dalam analisis jabatan.


Tata Cara Pembayaran Upah dan Insentif Kerja

Adanya kompetisi di pasar/bursa tenaga kerja yang ada, maka didalam penetapan gaji/ upah karyawan secara organisasi harus mempertimbangkan tingkat upah/gaji yang umum berlaku. Untuk maksud ini diperlukan suatu survei khusus yang berkaitan dengan data/informasi mengenai standar maupun tingkat upah/gaji yang berlaku umum untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan.
Berdasarkan evaluasi jabatan dan survei mengenai upah/gaji, maka besarnya upah/gaji dasar (Rp./jam) atau (Rp/Unit Output) akan bisa diputuskan. Dalam kaitannya dengan pembayaran upah ini ada beberapa metode yang umum diaplikasikan yaitu seperti:

  • Metode pembayaran upah berdasarkan hasil keria (Daywork dan Measured Daywork).
  • Metode pembayaran upah dan insentif kerja berdasarkan unit periodik yang dihasilkan (Piece Work Insentive).
  • Metode pembayaran upah dan Insentif kerja berdasarkan jam kerja standar dicapai (Standard Hour Incentive).
  • Metode pembayaran upah dan Insentif kerja berdasarkan prestasi kerja kelompok (Group Incentive).


Manajemen Industri Bagian I

HISTORIS, DEFINISI DAN RUANG LINGKUP DISIPLIN 
TEKNIK INDUSTRI

Pendahuluan

Teknik Industri - istilah ini diterjemahkan dari kata Industrial Engineering - sebagai suatu disiplin ilmu keteknikan yang baru lahir melalui suatu proses evolusi yang lama sejak Revolusi Industri yang berlangsung sekitar dua abad lampau. Kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi maupun produktivitas sistem produksi merupakan pendorong utama munculnya disiplin.
Teknik Industri. Disiplin teknik industri pada dasarnya akan memberi bekal dan kemampuan untuk melihat serta menyelesaikan segala permasalahan industri dengan konsep pendekatan sistem (system approach).


Pengertian tentang Industri dan Manajemen Industri

Secara definitif industri bisa diartikan sebagai suatu lokasi atau tempat dimana aktivitas produksi akan diselenggarakan, sedangkan aktivitas produksi bisa dinyatakan sebagai sekumpulan aktivitas yang diperlukan untuk mengubah satu kumpulan masukan menjadi produk keluaran yang memiliki nilai tambah. 
Di dalam proses produksi akan terjadi suatu proses perubahan bentuk (transformasi) dari input yang dimasukkan baik secara fisik maupun nonfisik. Disini akan terjadi pada apa yang disebut dengan pemberian nilai tambah dari input material yang diolah. 
Penambahan nilai tertentu bisa ditinjau dari aspek penambahan nilai fungsional maupun nilai ekonomisnya. 

Adanya proses manajemen jelas akan memberikan ketetapan mengenai:
  • Sistem nilai dan tujuan yang ingin dicapai
  • Struktur organisasi dikaitkan dengan hirarki, tanggung jawab dan wewenang
  • Perancangan, perencanaan dan pengendalian aktivitas operaasional yang harus dilaksanakan. 
Secara lebih spesifik fungsi yang harus dilaksanakan oleh proses manajemen industri akan mencangkup 3 fungsi pokok yaitu:
  • Fungsi Pemasaran (Marketing)
    Fungsi pemasaran dalam hal ini bertanggung jawab untuk menumbuhkan kebutuhan (demand) dari output yang dihasilkan.
  • Fungsi Pendanaan (Finance)
    Fungsi pendanaan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan dana yang cukup dalam menunjang proses produksi baik kebutuhan dana yang bersifat jangka pendek maupun panjang.
  • Fungsi Produksi (Production)
    Fungsi produksi bertanggung jawab untuk membuat dan  menghasilkan produk untuk merealisasikan kebutuhan.

Wawasan Teknik Industri dan Analisa Manajemen

Frederick Winslow Taylor - yang merupakan pioner pengembangan ilmu Teknik Industri memperkenalkan pendekatan manajemen ilmiah (scientific management) untuk menyelesaikan masalah-masalah industri secara lebih pasti. Pernyataan Taylor yang terkenal “knowing exactly what you want to do, and then seeing thaat they do it in the best and cheapest way” memberi landasan filosofis baru dalam aktivitas manajemen di lantai produksi.
Ilmu keteknikan (engineering) dan ilmu manajemen pada dasarnya memiliki filosofis dasar yang sama. Perbedaan hanyalah terletak pada obyek yang dihadapi. Manusia teknik (engineer) atau manusia manajemen (manager) dalam lingkungan yang kompleks (industri), keduanya harus mampu mengalokasikan secara optimal segala sumber untuk di”input”kan ke dalam proses produksi atau operasional yang ada. Keduanya juga harus mampu mengidentifikasikan dan mengevaluasi hubungan/interaksi dari komponen-komponen (sub-systems) dari sistem produksi/industri yang ada. Ilmu keteknikan dan ilmu manajemen sedikit memiliki perbedaan dalam hal penguasaannya terhadap sub-sistem yang dihadapi.
Dalam menghadapi masalah-masalah industry yang merupakan sistem integral dengan kompleksitas yang tinggi, seringkali dirasakan bahwa teknik-teknik kuantitatif  kurang memadai. Di lain pihak penyelesaian masalah hanya dengan modal pengalaman dan intuisi semata sering dirasakan kurang dalam hal ketetapan dan kepastiannya oleh karena itu diperlukannya disiplin Teknik Industri. Disiplin Teknik Industri dalam hal ini memberikan alternatif untuk menjembatani persoalan-persoalan yang tidak tertangani oleh disiplin keteknikan lainnya dengan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh disiplin non-teknik (manajemen) didalam menyelesaikan problematic industry.


Kaitan Disiplin Teknik Industri dengan Displin-disiplin yang Lain

Disiplin teknik industri pada dasarnya memiliki kaitan yang erat dengan disiplin-disiplin keteknikan ataupun ilmu yang lain. Disamping berkaitan erat dengan disiplin Teknik Mesin (Mechanical Engineering), maka bidang Teknik Industri akan pula memiliki kaitan dengan Manajemen, Computer Science, Statistik, Operation Research, Human Engineering, Psikologi, Sosio-Ekonomi, System Engineering, dan lain-lain.  Disiplin teknik industri ini pada dasarnya akan banyak terlihat pada hal-hal yang bukan saja menyangkut masalah keteknikan tetapi juga meliputi hal-hal yang non teknis.


Peranan Disiplin Teknik Industri dalam Proses Pembangunan Industri

Dalam konteks disiplin Teknik Industri, maka yang dimaksudkan dengan industry meliputi  semua sistem organisasi usaha, baik yang bergerak disektor produksi barang (manufacturing) maupun jasa (service). Prinsip-prinsip dasar disiplin Teknik Industri secara luas akan mampu diaplikasikan di berbagai sektor lapangan kerja seperti pertanian, rumah sakit, jasa perbankan/asuransi, jasa konsultasi teknik/manajemen, organisasi pemerintahan atau militer, konstruksi, pendidikan/penelitian, jasa transportasi/distribusi, dan sebaginya selain itu industri (pabrik) manufaktur.
Salah satu ciri pemanfaatan secara efektif dari disiplin Teknik Industri adalah untuk produksi massal yang sedikit banyak masih tergantung pada sumber daya manusia. Walaupun per definisi teknik industri adalah ilmu yang mengatur sistem yang terdiri dari manusia, mesin dan material, namun faktor sumber daya manusia justru tetap merupakan sub sistem yang paling menonjol.



TEKNIK PRODUKSI: TINJAUAN SINGKAT TENTANG 
BERBAGAI MACAM PROSES PRODUKSI


Definisi Teknik Produksi

Teknik Produksi yang diterjemahkan dari Production Engineering adalah salah satu disiplin yang terkait erat dan merupakan bagian pokok dari Teknik Industri (Industrial Engineering). Secara definisi, Teknik Produksi bisa dinyatakan sebagai "designing the production process for a product". Dengan demikian di dalam disiplin Teknik Produksi atau sering pula disebut sebagai Teknik Manufaktur (Manufacturing Engineering) akan dibahas segala pertimbangan yang diperlukan dalam kaitannya dengan proses-proses produksi. Disini akan meliputi permasalahan seperti: desain dan pemilihan mesin (process engineering), desain peralatan-peralatan bantu (tools, jigs dan fixtures), estirnasi biaya sistem perawatan (maintenance) dan pengepakan (packaging).


Keterkaitan antara Perancangan Produk dan Perancangan Proses Produksi

Disini ada hubungan yang sangat erat dan saling ketergantungan antara aktivitas-aktivitas perancangan produk, pemilihan material, proses dan peralatan produksi, serta perancangan maupun pemilihan perkakas (tools). Oleh karena itu langkah-langkah ini perlu direncanakan dan dikoordinasikan dengan seksama sejak awal agar dapat diperoleh biaya produksi yang paling ekonomis. Secara ideal seorang perancang produk seharusnya bekerja bersama-sama dengan seorang insinyur produksi sejak awal. Hal ini dimasukkan agar ada jaminan bahwa suatu rancangan produk akan bisa dibuat dengan teknologi (mesin ataupun aktivitas produksi lainnya) yang tersedia pada tingkat biaya yang minimal.


Estimasi Biaya Produksi (Manufacturing Cost)

Estimasi biaya merupakan langkah yang penting didalam kegiatan manufakturing. Biaya-biaya yang berstruktur dalam hal ini akan bisa diklasifikasikan dalam tiga komponen biaya utama, yaitu:

  • Biaya material langsung: yaitu berupa pembiayaan yang dikeluarkan untuk pengadaan material yang diperlukan langsung untuk menghasilkan produk.
  • Biaya pekerjaan langsung: yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membayar upah para pekerja langsung (operator mesin misalnya).
  • Biaya overhead: yaitu biaya-biaya produksi yang dikeluarkan selain untuk biaya material atau pekerja langsung. Sebagai contoh biaya material atau pekerja tidak langsung adalah merupakan biaya overhead.

Perencanaan, Pemeliharaan Sistem Produksi

Perawatan secara priodik (preventive maintenance) terhadap mesin atau fasilitas produksi jelas penting untuk diperhatikan. Kalau suatu saat terjadi kerusakan dari mesin ataupun komponen-komponennya sehingga memerlukan perbaikan dan penggantinya maka langkah ini disebut dengan Emergency Maintenance. Emergency Maintenance jauh lebih mahal dibandingkan dengan preventive maintenance, karena hal ini juga harus memperhitungkan biaya yang hilang disebabkan berhentinya kegiatan produksi, rescheduling dari rencana produksi dan sebagainya. Untuk kedua jenis maintenance tersebut penetapan dan perencanaan jadwal kegiatan maintenance, man power dan peralatan yang diperlukan jelas suatu hal yang sangat penting diperhatikan.


Pengorganisasian Kegiatan Produksi dalam Sebuah Industri Manufaktur

Dalam sub-bab ini akan banyak disinggung mengenai pengorganisasian fungsi-fungsi kegiatan produksi dalam sebuah industri manufaktur yang lazim dikenal sebagai "fabricator” karena aktivitas pokoknya adalah melakukan kegiatan fabrikasi, yaitu membuat berbagai macam produk/komponen yang kemudian merakitnya mcnjadi produk akhir untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Banyak industri manufaktur baik skala menengah atau besar yang melaksanakan aktivitasnya seperti yang telah disebutkan. Untuk beberapa industri, puluhan, ratusan bahkan ribuan produk akan mampu dihasilkan. Setiap produk bisa terdiri atas satu atau lebih konsumen. Tentu saja dalam hal ini pengorganisasian maupun koordinasi dari aktivitas-aktivitas produksi yang harus dilakukan tersebut akan sangat kompleks sekali.
Langkah-langkah dalam siklus manufaktur bisa berbeda-beda tergantung pada tipe industri, produk yang dibuat (macam dan jumlah), skala industri, dan/atau gaya manajemen yang diaplikasikan.


Klasifikasi Proses Produksi Berdasarkan Jumlah Produk yang Dihasilkan

Dalam kaitannya dengan jumlah ataupun volume produksi yang dihasilkan, industry manufacturing dapat diklasifikasikan ke dalam 3 tipe yaitu:
  • Job Shop Production
    Job Shop production seringkali disebut sebagai industri yang bekerja berdasarkan pesanan (job order). Jumlah atau volume produksi yang dihasilkan seringkali rendah dan umumnya digunakan untuk memenuhi pesanan yang spesifik oleh karena itu banyak variasi pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh industri semacam ini.
  • Batch Production
    Industri dengan kategori seperti ini akan membuat produk dalam jumlah atau volume dengan skala medium size. Batch production disini seringkali dimaksudkan untuk memuaskan kebutuhan konsumen akan suatu produk secara kontinyu. Disini pabrik memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk pada laju produksi dalam suatu jumlah tertentu yang memungkinkan untuk mengadakan persediaan (investasi), dan kemudian merubah proses produksi untuk menghasilkan macam produk yang lainnya.  
  • Mass Production
    Tipe produksi massal yang diaplikasikan untuk menghasilkan produk dalam jumlah besar tetapi relative sejenis (identical type of product). Mesin dan peralatan produksi cenderung menggunakan tipe special purpose yang tentu saja membawa konsekuensi ke arah investasi yang tinggi pula. Disisi lain keterampilan berproduksi dari manusia akan dialihkan sepenuhnya ke mesin, sehingga hal ini membawa konsekuensi ke arah kebutuhan skill dan operator yang tidak setinggi pada job shop production.

ANALISA DAN METODE PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI (PABRIK) 


Definisi Teknik Produksi

Fasilitas produksi adalah sesuatu yang dibangun, diadakan atau investasikan guna melaksanakan aktivitas produksi. Lokasi pabrik yang dimaksudkan sebagai lokasi dimana fasilitas-fasilitas produksi tersebut diletakan. Lokasi pabrik (plant location) dibedakan dengan tata letak pabrik (plant layout), yang mana lebih menunjukkan kondisi pengaturan fasilitas-fasilitas produksi tersebut dalam sebuah pabrik agar proses produksi bias berjalan secara lancer terutama sekali dengan meninjaunya dari aspek aliran material dari satu proses menuju proses berikunya. Berikut ini adalah alasan-alasan dalam penetapan lokasi pabrik : 

  • Fasilitas produksi membutuhkan sejumlah besar modal yang diinvestasikan dalam jangka panjang.
  • Fasilitas produksi member batasan dan kerangka kerja dari sistem produksi.
  • Pada saat beroperasi dalam yang sangat sulit dan mahal, maka lokasi pabrik harus dipindahkan bilamana lokasi yang sebelumnya dianggap tidak layak.
  • Lokasi pabrik akan memiliki unsure strategis guna memperkuat posisi untuk bersaing dalam rangka penguasaan wilayah pemasaran.
Pemilihan lokasi pabrik yang akan didirikan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang mana tepat tidaknya penentuan lokasi akan bersangkut paut dengan kesuksesan modal yang ditanamkan untuk pendirian pabrik tersebut. Suatu industri pada hakekatnya akan memperluas sistem usahanya bila mana : 

  • Fasilitas-fasilitas yang ada sudah dirasakan jauh ketinggalan.
  • Kebutuhan pasar (market demand) tumbuh dan berkembang melampaui kapasitas produksi yang terpasang.
  • Pelayanan (service) yang tidak mencukupi dan memuaskan konsumennya.
Pada dasarnya lokasi pabrik yang paling ideal adalah terletak pada suatu tempat yang akhirnya mampu memberikan total biaya produksi yang rendah dan keuntungan yang maksimal.


Dasar-Dasar Pemilihan Lokasi Pabrik

Ada dua langkah utama yang diambil dalam proses penentuan lokasi pabrik yaitu pemilihan daerah atau territorial secara umum dan pemilihan berdasarkan size dari jumlah penduduk dan lahan secara khusus.
Pemilihan teritorial secara umum adalah untuk mendapatkan informasi secara umum dan setelah itu ditentukan jumlah penduduknya dan lahan yang dikehendaki secara khusus, yang mana untuk ini alternatif pemilihannya dapat diklasifikasikan ke dalam daerah di kota besar. Sebagai contoh lokasi di daerah terjauh dari keramaian kota akan sangat dikehendaki untuk akan memproduksi bahan peledak. Kondisi umum dalam mengambil peranan dalam proses penentuan lokasi pabrik yaitu : 

1. Lokasi di Kota Besar (city location)

  • Diperlukan tenaga yang terampil dalam jumlah besar
  • Proses produksi tergantung pada fasilitas-fasilitas yang terdapat di kota-kota besar
  • Kontak dengan pemasok dekat dan cepat
  • Sarana transportasi dan komunikasi mudah di dapat
2. Lokasi di Pinggir Kota (sub-urban location)

  • Semi-skill atau fimale labor mudah diperoleh
  • Menghindari pajak yang berat 
  • Tenaga kerja dapat tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik
  • Populasi tidak begitu besar sehingga tidak timbul banyak masalah lingkungan 
3. Lokasi Jauh di Luar Kota (country location)

  • Lahan yang luas sangat diperlukan untuk keadaan sekarang maupun rencana yang akan datang
  • Pajak terendah lebih dikehendaki
  • Tenaga kerja tidak terampil dalam jumlah besar lebih dikehendaki
  • Upah buruh lebih rendah dan mudah di dapat baik untuk proses manufacturing produk-produk yang berbahaya.
Lokasi akan menentukkan dekat tidaknya pabrik tersebut ke sumber bahan baku ataupun jasa pemasarannya. Jarak dari pabrik kedua tempat ini akan menentukkan pula metode transportasi yang sebaiknya dipergunakan. Pengaturan dari departemen penerimaan atau pengiriman barang akan mempunyai macam variasi dalam perencanaan letaknya yang harus disesuaikan pula dengan macam dan metoda tranportasi yang digunakan. Selanjutnya kemungkinan adanya ekspansi di masa yang akan datang ikut pula menentukan lokasi pabrik ini.


Faktor-Faktor Yang Dipertimbangkan Di Dalam Menetukkan Alternatif Lokasi Pabrik

Banyak faktor yang harus dipertimbangkan didalam penentuan lokasi dimana fasilitas produksi dari sebuah pabrik seharusnya didirikan. Faktor-faktor tersebut secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Faktor-Faktor Yang Berkaitan Production Input/Output
Suatu pabrik biasanya didirikan dengan memperhatikan faktor yang berkaitan dengan lokasi dimana sumber-sumber material input diperoleh dan lokasi dimana hasil-hasil produksi akan di distribusikan. Lokasi pabrik cenderung untuk dipilih berdekatan dengan wilayah pemasaran (potensial customer) bilamana proses produksinya cenderung mengarah ke penggabungan/perakitan dari beberapa material (proses syntetic).

2. Faktor-Faktor Yang Berkaitan Dengan Proses Produksi
Faktor proses (teknologi) yang harus dipertimbangkan di dalam proses pemilihan lokasi pabrik yaitu menyangkut dengan suplay energi dan tenaga. Energi adalah merupakan faktor production input yang sangat memegang peranan kuat untuk kelangsungan industri. Pendirian pabrik pada suatu lokasi tertentu juga akan memepertimbangkan tersedianya tenaga kerja dalam jumlah dan skill yang diperlukan. Tingkat upah yang harus diberikan sering kali menjadi daya tarik untuk meletakan lokasi industri pada wilayah tertentu.

3. Faktor-Faktor Yang Berkaitan Dengan Kondisi Lingkungan Luar
Faktor-faktor terluar yang menunjang kelancaran proses produksi, suplay material maupun distribusi output hasil proses produksi seperti sarana dan prasarana komunikasi atau transportasi merupakan faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan. Sosial budaya masayarakat setempat seperti variabel, demografis atau sikap mental masyarakat terhadap berdirinya industri disekitar mereka sering kali menjadi dasar pertimbangan. Hal-hal yang berkaitan dengan peraturan dan kebijakan pemerintah setempat juga merupakan faktor luar yang menjadi pertimbangan khusus di dalam evaluasi serta penetapan alternatif lokasi.

Pemilihan lokasi pabrik jelas diupayakan untuk memiliki lokasi yang mampu memberikan total biaya yang serendah-rendahnya. Biaya yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini meliputi:

  • Biaya untuk memenuhi kebutuhan input produksi (Ci) seperti biaya bahan baku, biaya energi, dan sebagainya.
  • Biaya-biaya produksi yang diklasifikasikan sebagai overhead cost atau fixed cost.
  • Biaya untuk pendistribusian output yang dihasilkan sampai di tangan konsumen yang memerlukannya.

Metode-Metode Pemilihan Dan Penetapan Alternatif Lokasi Pabrik

Untuk menentukan alternatif lokasi fasilitas produksi (pabrik) yang sebaiknya didirikan, maka ada beberapa cara/metode yang dikenal seperti metode ranking procedure, metode analisa pusat gravitasi, dan metode transportasi program linier.

1. Pemilihan Alternatif Lokasi Dengan Metode Rangking Procedure
Metode ini lebih bersifat kualitatif atau subyektif. Metode ini sangat sesuai jika diaplikasikan untuk problema yang sangat sulit untuk dikuantifikasikan. Adapun langkah-langkah analisa sebagai berikut :

  • Identifikasikan faktor-faktor yang relevan dan memiliki signifikasi yang berkaitan dengan proses pemilihan lokasi pabrik
  • Pemberian bobot untuk masing-masingfaktoryang telah diidentifikasikan
  • Lakukan penilaian (skor) untuk masing-masing faktor yang di identifikasikan untuk masing-masing alternatif lokasi yang akan dievaluasi
  • Hitung total nilai (bobot faktor x skor faktor) untuk masing-masing alternatif lokasi
2. Pemilihan Alternatif Lokasi Dengan Metoda Analisa Pusat Gravitasi
Metoda analisa pusat gravitasi dalam hal ini dibuat dengan memperhitungkan jarak masing-masing lokasi sumber material atau wilayah pemasaran dengan lokasi pabrik yang direncanakan.
Kendala di dalam analisa pusat gravitasi ialah adanya perbedaan biaya distribusi dan produksi untuk setiap lokasi dimana dalam formula yang ada tidak diperhitungkan. 

3. Pemilihan Alternatif Lokasi Pabrik Dengan Metoda Analisa Transportasi Programa Linier (The Least Cost Assignment Routine Method)
Formulasi transportasi programa linier dipergunakan untuk menentukkan pola distribusi yang terbaik dari lokasi pabrik wilayah pemasaran tertentu. Metode yang paling sederhana, cepat, dan mudah untuk penyelesaian masalah transportasi dikenal sebagai Metoda Heuristics. Metoda Heuristics bertujuan untuk meminimumkan total cost untuk alokasi atau distribusi suplay produk pada setiap lokasi tujuan. Metoda Heuristics ini meskipun sederhana, cepat atau mudah dan selalu dimulai dengan biaya terkecil tetapi tidaklah member jaminan bahwa hasil agennya akan optimal